Nama : Putri Putu Pratami
NIM : G5410009
Laskar : 14

Kesedeharnaan, Ya, itulah dia!

Dengan segala kekurangan yang dimilikinya, Ia mampu menutupi dengan akhlak dan prestasinya baik akademis maupun non-akademis. Bermula dengan perkenalan karena kita duduk depan belakang. Tutur katanya yang lembut, kesederhanaan, dan akhlak yang baik membuat orang lain enggan untuk menyakitinya. Subhanallah.

Suatu ketika, ada tugas kelompok, teman-temanku ingin di rumah Riroh, tetapi Ia menolak, “rumahku jelek, ga layak banget” tetapi di dalam benak kami yaitu rumah sederhana saja. Dua jam perjalanan dari sekolah ke rumahnya. Jauh sekali, kami berfikir, jam berapa Ia berangkat dari rumah. Sepanjang perjalanan Ia terus meminta maaf. Sesampai dirumahnya ternyata benar, gubuk yang tak layar, besarnya tak lebih dari 2 x 3 m, seperti yang Riroh bilang, kami merasa tidak tega. Tetapi kaki mambuat Riroh merasa senang.
Di sekolah kami setiap Zuhur past berjamaah. Temanku iseng bertanya kepada Riroh, “Ri, kok kau gak pernah bawa mukena si terus kok sepatunya kayak kecil banget?”, kemudian Riroh menjawab dengan tersenyum, “Mukena Ri cuma satu, itu juga buat dirumah, iyaa aku gak punya uang buat beli sepatu jadinya pake punya adikku”. Teeeek, tersentak hatiku dan teman-temanku mendengarnya.

Ayahnya yang bekerja sebagai supir container membuat dirinya jarang pulang. Semenjak itu, ibunya pun mengalami stress, tidak punya uang, dsb. Suatu saat, Riroh mengikuti lomba karya ilmiah, dan Alhamdulillah ia mendapat juara dan hadiah yang lumayan banyak. Pada saat itu ayahnya meminjam uang kepada Riroh, katanya mau bayar utang, namun sudah lama tetapi tidak dibayar. Padahal uang tersebut ingin dipakai untuk membayar uang SPP yang sudah 6 bulan ditunggak, hingga kepala sekolahku memanggilnya. Dikarenakan prestasinya disekolah, kepala sekolahku itu memberikan waktu kepadanya.

Pelindo, yaa, lapangan pekerjaan yang banyak dinantikan kebanyakan orang yang tidak bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Namun, kepala sekolahku bilang kalau sudah ada yang diajukan sekolah, tetapi bukan dirinya. Riroh merasakan kekecewaan yang mendalam karena tidak dapat. Semenjak saat itu, Ia mengumpulkan uang untuk biaya ujian masuk PTN karena tidak mungkin meminta kepada orang tuanya. Betapa bangganya saya punya teman sepertinya.

Dia masih sempat belajar di rumah padahal sesampai rumah Ia harus mengasuh keponakannya sebanyak 3 yang masih balita dan mengurusi ibunya yang sedang sakit ditambah lagi dengan tugas dari sekolah yang tak terhitung banyaknya. Padahal waktu yang ditempuh dari sekolah ke rumahnya ialah 2 jam. Sungguh Ia dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya sehingga selalu mendapatkan nilai yang teratas di kelas. Di samping itu, Ia juga aktif dalam organisasi seperti KIR, Rohis dll dan selalu mendapatkan juara apabila mengikuti lomba di luar sekolah.

Tes demi tes pun Ia coba, namun sudah beberapa kali Ia gagal. Duit tabungannya pun habis karena dipakai untuk tes. Hampir saja Ia tidak melanjutkan kuliah. Jalur terakhir, SNMPTN, merupakan kesempatannya terakhir. Alhamdulillah akhirnya ia lolos di Pendidikan Biologi UNJ. Namun, masalah muncul lagi. Ia tidak memiliki dana untuk membayar uang masuknya, kebijakannya tidak ada keringanan untuk uang pangkal. Nyaris saja Ia tidak melanjutkan kuliah. Keinginannya untuk melanjutkan sekolah sangat tinggi namun ia prihatin atas kondisi keluarganya yang tidak memungkinkan untuk membiayainya nanti. Mendengar berita tersebut, kami berinisiatif untuk mengumpulkan dana untuk membiayai uang pangkalnya. Alhamdulillah terkumpul bahkan lebih dari yang ditargetkan.

*sungguh, seharusnya kami yang jauh lebih beruntung harus bisa lebih dari Riroh, banyak bersyukur, tak pernah menyerah, tidak malu atas ketidakpunyaan yang Ia miliki, berbuat baik kepada yang lain akan memudahkan kita mendapat pertolongan apabila kita mendapat musibah yang tidak bisa kita tangani sendiri, prihatin kepada orang tuanya akan mempermudah jalan dalam menjalani segala urusan